Untuk Anda yang tinggal di Sumatera dan menjadi konsumen perusahaan air minum dalam kemasan terbesar di Indonesia dengan inisial A maka kemungkinan besar Anda tahu bahwa air minum “A” itu diproduksi di Doulu, Berastagi di Kabupaten Karo. PT. T S yang ada di bawah grup perusahaan asal Perancis, “D” yang memproduksi “A” pastilah memilih Doulu karena persediaan air bersih alaminya yang besar. Air bersih pasti tersedia untuk semua orang.
Namun kenyataannya tidak seindah itu. Masih di kabupaten yang sama, pemerintah mempunyai perusahaan penyedia air bersih (PDAM) dengan inisial TS yang kebetulan mirip dengan nama perusahaan pembuat “A”. Perusahaan ini masih berjalan seperti biasa setiap harinya. Berjalan dalam artian mereka masih mempunyai kantor dan pegawai yang tetap digaji setiap bulan. Hanya satu elemen yang absen dari berjalannya PDAM TS ini, air!
Seperti halnya Pertamina menjual bahan bakar minyak, PDAM TS ini seharunya menjual (menyediakan) air bersih. Tetapi pada prakteknya PDAM TS gagal menjalankan tugas pokoknya. Kegagalan mereka dapat dilihat dari output air yang sampai ke rumah-rumah pelanggan. Debit air kecil dan tak jelas kapan waktunya air mengalir.
Satu lagi tanda kegagalan PDAM TS yang lebih mirip seperti tamparan ke wajah perusahaan adalah menjamurnya perusahaan swasta penyedia air bersih. Perusahaan-perusahaan ini menyampaikan produknya ke konsumen bukan melalui pipa-pipa seperti milik PDAM TS, namun dengan tong-tong plastik dan metal yang diangkut oleh mobil pickup tua dengan asapnya yang hitam mirip cairan tinta cumi-cumi.
Satu pickup biasanya mengangkut 6 tong air dan setiap tong dihargai 6.000 rupiah saja diantar sampai ke bak milik pelanggan. Dari seringnya pickup-pickup pengangkut air ini lalu lalang di sepanjang Jalan Jamin Ginting, Kabanjahe, bisa ditebak bahwa demand (permintaan)-nya tinggi dan mereka dapat menyediakan (supply) air yang dibutuhkan.
Dari fakta ini juga bisa ditebak bahwa persediaan air yang dimiliki perusahaan-perusahaan swasta ini besar sekali. Mereka ada banyak dan pickup mereka tak pernah lama diam di pangkalan.
Lalu bila penyedia air bersih swasta yang banyak ini sanggup menyediakan air bersih yang banyak, mengapa perusahaan penyedia air bersih milik pemerintah tak sanggup? Saya sendiri tak tahu mengapa mereka tak sanggup dan saya tak tahu darimana asalnya air bersih yang dijual perusahaan-perusahaan air bersih swasta tadi.
.
.
.
.
.
Dan satu lagi pertanyaan muncul dikepala saya, kenapa pemerintah tidak sekalian mem-privatisasi PDAM ini bila kenyataan lebih banyak air yang disediakan oleh “perusahaan-perusahaan air bersih swasta tak berpipa”? Entahlah.